Widget edited by super-bee

Goresan Cah Melayu

Sabtu, 19 Januari 2013

Saya Tertarik Membaca Artikel Masjid Lautze Ini

SAMBIL browsing-browsing di internet, saya menemukan satu artikel yang membahas soal masjid yang berbau-bau Tioghoa. Namanya Masjid Lautze, Jalan Lautze No 87-89, Pasar Baru, Jakarta.

Artikelnya ini tergolong baru. Sebab waktu uploadnya tertulis 1 Mei 2012. Saya pun tertarik membacanya sampai tuntas. Sebab bagi saya, infonya bagus untuk menambah pengetahuan saya tentang perkembangan Islam di kalangan etnis Tioghoa Indonesia.

Menariknya, gedung masjid berlantai empat ini ternyata awalnya ngontrak dan jemaahnya memang sebagian besar mu'allaf (orang yang baru masuk Islam) dari kalangan Tioghoa.

Gedung ini satu deretan dengan ruko-ruko lainnya. Papan namanya berwarna merah. Pintu-pintunya pun berwarna merah. Tentu Warna khas etnis Tioghoa.

Namun ada nuansa lain dalam bentuk bingkai pintunya yang melengkung. Lengkungan itu seperti gaya bangunan seni Islam. Gambarannya pun serupa masjid. Ternyata, lantai bawah bangunan yang bertuliskan nama Yayasan Haji Karim Oei, memang berfungsi sebagai masjid, yaitu Masjid Lautze.

Dalam artikel ini dijabarkan, Yayasan Haji Karim Oei didirikan 9 April 1991. Nama Karim Oei diambil dari nama seorang tokoh Islam keturunan Tionghoa yang akrab dengan Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lain saat itu.

Nama yang terdengar bernuansa Tioghoa ini dipilih untuk menyesuaikan diri dengan misi yayasan yang berupaya menyebarkan Islam di kalangan etnis Tionghoa.

Selain dikenal sebagai konsul Muhammadiyah karena ketaatannya menjalankan syari'at Islam dengan baik, H Karim Oei juga seorang bisnismen yang sukses. Ia merupakan salah satu pendiri Bank Central Asia (BCA), Preskom BCA dan pemilik berbagai perusahaan yang sukses, khususnya di bidang industri.

"Karena itu, setelah bapak meninggal, Pak Yunus Yahya (tokoh pembauran) dan kawan-kawan mendirikan yayasan ini untuk mengenang almarhum. Tujuannya, agar lahir Karim Oei-Karim Oei baru yang Islamnya kuat, nasionalis tulen dan bisnismen sukses," tutur H Ali Karim, SH, salah satu anak H Karim Oei dan menjadi Wakil Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei.

Lokasi gedung memang terletak di area Pecinan (China town). Sehingga, memudahkan warga keturunan memperoleh informasi tentang Islam.

"Mungkin sebenarnya banyak orang Tionghoa ingin tahu tentang Islam. Tapi kebanyakan mereka takut atau ragu untuk masuk masjid. Dengan melihat papan nama yang mencantumkan jelas nama Haji Karim Oei, tentu orang sudah tahu bahwa ini yayasan Islam yang ada hubungannya dengan etnis Tioghoa. Sehingga, kalau ada orang Tionghoa lewat sini dan ingin masuk Islam, tidak akan sungkan lagi," papar Ali.

Meski sarat nuansa Tioghoa, Ali menegaskan, keberadaan yayasan terbuka untuk setiap orang.

"Salah, kalau ada yang mengatakan yayasan ini adalah perkumpulan cina muslim. Misinya memang untuk orang Cina, tapi kegiatannya siapa saja boleh ikut. Bahkan, kita pun tidak menutup kemungkinan bagi non muslim untuk berpartisipasi membantu yayasan atau mengikuti berbagai forum kegiatan di sini," katanya.

Stereotipe orang Cina pasti kaya, juga dialami oleh yayasan. Itu terlihat dari banyaknya permohonan bantuan pada yayasan. Padahal, pada awal berdirinya, untuk menebus akte pendirian sebesar Rp 100.000 saja pihak yayasan tidak mampu.

Beruntung, yayasan mendapat tugas mengurus jama'ah haji dengan ONH Plus. Uang komisi dari tugas itulah yang digunakan untuk membayar akte.

Setelah yayasan berdiri, kendala lain muncul. Yayasan belum punya tempat. Maka, mau tak mau harus mengontrak gedung di lantai bawah di jalan Lautze untuk kantor. Ide lain kemudian muncul dari ketua umum Yayasan yaitu Drs H Junus Jahja untuk membangun masjid.

"Tidak ada jalan lain, kita hanya punya satu lantai digunakan untuk masjid. Sedang kantor kita pakai ruangan pak Yunus yang berada di lantai dua," ungkap Ali seraya menambahkan "Jadilah masjid ini masjid pertama di Indonesia yang ngontrak."

Masjid Lautze baru dinyatakan milik yayasan, setelah Prof DR Ing Habibie melalui Ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) saat itu yaitu H Ahmad Tirtosudiro, membayar harga gedung berlantai empat secara keseluruhan.

Yaitu, sekitar 1998 yayasan telah memiliki gedung sendiri dan digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat Islam. (www.piti.info)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

TERIMA KASIH KOMENTARNYA, SEMOGA BERMANFAAT

Keliling Riau Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger