Widget edited by super-bee

Keliling Riau

Goresan Cah Melayu

Jumat, 08 Agustus 2014

Dentuman Karbit di Sabak Auh


Lebaran tahun ini, memang giliran mudik ke kampung istri, Siak. Tepatnya di Desa Selat Guntung, Kecamatan Sabak Auh. Dulunya bernama Rempak Hilir. Lebaran kedua, baru lanjut ke kampung sendiri di Rokan Hilir, Desa Teluk Pulau Hilir, Kec Rimba Melintang.

Secara umum tradisi menyambut lebaran di sini hampir sama di kampung awak. Saat malam takbiran, rumah-rumah warga masih banyak dihiasi lampu-lampu colok. Kemudian ada juga takbir keliling oleh warga setempat yang berkeliling kampung dengan berjalan kaki.

Di beberapa sudut kampung, anak-anak juga asyik bermain kembang api. Mercon juga. Bunyinya saling bersaut-sautan. Tapi merconnya yang kecik-kecik aje. Warga di sini menyebutnya mercon lado.
Ada juga mercon-mercon terbang yang kemudian menyemburkan bunga api di udara. Tapi hanya satu-satu. Mungkin karena harganya relatif mahal, maka yang mau beli sedikit.

Tapi di sela-sela bunyi mercon tersebut, sesekali terdengar suara dentuman bak meriam membahana di sentero kampung. Tuuummmmmm......!!!!

Dentumannya keras sekali. Makin malam, suaranya makin dominan dan saling saut. Sumber suaranya terus bergerak. Itu adalah bunyi KARBIT.

Waktu saya kanak-kanak dulu, Karbit memang menjadi mainan wajib setiap bulan ramadhan. Tapi terbuat dari bambu ukuran besar dan ada juga dari kaleng minuman. Sebagai pemicu dentuman, bahan baku pendukungnya minyak tanah yang kemudian disulut dengan api. Salah-salah main, rambut atau alis mata, bisa hangus terbakar.

Kemudian mainnya tak bisa bergerak kesana-kemari. Selain bambu atau kalengnya panas, kalau di bawa bergerak-gerak, minyak tanahnya bisa tumpah.
@karbit bambu
Tapi saat di kampung isteri, karbitnya beda dan unik, karena terbuat dari paralon ukuran sedang dengan bahan baku pendukung minyak spritus. Menariknya, tanpa perlu disulut dengan api, sudah mengeluarkan suara dentuman membahana di seantero kampung. Setelah di isi spriptus, goyang-goyang sikit langsung dipencet, bunyi deh: tummmmmmmm!!!!


 
Menariknya lagi, bisa dimainkan sambil berlari-lari dengan ditenteng sebelah tangan, karena memang ringan dan tidak panas. Mereka saling serang bunyi. Kalau terlalu dekat, bisa memekakkan telinga juga. "Kalau tak bisa buat sendiri, ada yang jual. Harganya dikisaran 40-an ribu rupiah per-unit," ujar warga setempat. (*)

BACA TULISAN LAIN:
Makam Syech Moh Thoha Akhirnya Dibongkar
MTs Nurul Insan Makin WOW!!!
Tradisi Silat Nikahan yang Makin Memudar
Meneladani Budaya Gotong Royong di Teluk Pulau Hilir
STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
Danau Buatan Masih Biasa-biasa Saja
Meliuk-liuk Menuju Jembatan Pangean di Kuansing
Bakar Tongkang di Rohil
Stadion Utama Riau
Taman Marga Satwa Kasang Kulim  


Selasa, 05 Agustus 2014

Makam Syech Moh Thoha Akhirnya Dibongkar

Habis sudah komplek persulukan Syech Moh Thoha Babussalam Bangko di Desa Pematang Sikek, Rokan Hilir. Komplek ini akhirnya ludes diterjang ganasnya arus sungai Rokan.

Selain rumah suluk dan rumah tuan guru H Kh Mudo, makam Syech Moh Thoha Babussalam Bangko sebagai pendiri persulukan ini, juga tak luput menjadi sasaran amuk abrasi. Alhasil makamnya yang dulu beratus-ratus meter dari sungai, harus terpaksa dibongkor dan kemudian dipindahkan jauh ke lahan darat.

Makam-makam lainnya juga sudah mulai dipindahkan oleh sanak keluarga masing-masing. Sebab khawatir di bawa hanyut abrasi yang terus mengancam setiap menit. Komplek permakaman ini termasuk tertua, makanya terdapat ribuan makam yang harus segera direlokasi.

@bekas galian makan Syech Moh Thoha Babussalam Bangko di bibir sungai Rokan

@warga melintasi komplek pemakaman sisa-sisa galian

Liburan Idul Fitri 2014 lalu, saya sempat mampir sejenak. Terlihat hamparan bekas-bekas galian kuburan yang sudah berada di bibir sungai. Terlihat juga sisa-sisa tanggul bekas rumah suluk yang terpaksa dirobohkan, sebelum habis dibawa arus sungai terpanjang di Indonesia itu.

H Kh Mudo yang kini melanjutkan tampuk kepemimpinan persulukan Syech Moh Thoha Babussalam Bangko tersebut, hanya bisa pasrah menghadapi keganasan alam. Sementara campur tangan pemerintah yang sangat diharapkan, tak kunjung menghampiri.

"Habis semuo dah," ujar H Kh Mudo lirih sambil mengarahkan pandangannya ke sungai Rokan yang arusnya makin kencang.

H Kh Mudo adalah putra ketujuh dari delapan bersaudara anak Syech Moh Thoha Babussalam Bangko dari isteri keduanya bernama Kalimah. Sementara isteri pertamanya, Manian, hanya dikaruniai satu orang putra.

Kemudian isteri ketiganya bernama Bayu dengan 5 orang anak. Sementara istri keempatnya bernama Siti Hawa, putri dari tuan Syech Abd Wahab Rokan, tokoh Naksabandiyah dari Basilam, Sumatera Utara, tidak dikarunia anak.

Syech Moh Thoha Babussalam Bangko sendiri berasal dari Rantau Binuang, Kota Tongah, yang kini tergabung dalam wilayah administrasi Kabupaten Rokan Hulu. Namun masih berumur kanak-kanak, ia sudah dibawa hijrah oleh orangtuanya hingga akhirnya mendirikan komplek persulukan tersebut.

Kini komplek persulukannya hanya tinggal puing-puing tanggul dan terancam tinggal sejarah, karena sebagian besar sudah rata dengan air. Pertanyaannya: kemana pemerintah? Sepertinya tak ada yang peduli. "Memang tak ada yang peduli," ujar H Kh Mudo dengan tatapan kosong.

@sisa-sisa tanggul rumah suluk  Syech Moh Thoha Babussalam Bangko

@rumah tuan guru H Kh Mudo hanya tinggal bagian dapur
Dulu waktu masih kanak-kanak, saya sering bermain di komplek persulukan ini, apalagi kalau sudah tiba musim suluk, maka saya makin sering bolak-balik ke sini, melihat nenek yang juga ikut kegiatan religi suluk.

Tapi apa daya, kenangan itu terancam tak berjejak. Kalau sekarang datang ke sini, tak ada lagi terlihat rumah suluk yang menjulang tinggi, kolam besar tempat jemaah suluk berwudhu, termasuk makam Syech Moh Thoha, karena sudah menjadi genangan air dan kadang-kadang menjadi lalu lintas buaya.

Selamat jalan komplek persulukan Syech Moh Thoha Babussalam Bangko, semoga di komplek yang baru, yang kini tengah dipersiapkan dengan swadaya masyarakat, bisa tetap bergeliat dengan kegiatan persulukannya, amin. (*)

Minggu, 03 Agustus 2014

MTs Nurul Insan Makin WOW!!!


Saat berayo Idul Fitri lalu, sempat mampir sejenak di rumah Pak Tasrip (Kamis, 31 Juli 2014), sekalian jumpa dengan Pak Rohman. Pak Tasrip adalah orangtuanya Pak Rohman, guru nyantri waktu sekolah tingkat pertama dulu.

Selain bertemu Pak Tasrip dan Pak Rohman, di situ juga bertemu dengan Pak Nasuha, adiknya Pak Rohman, yang juga sempat saya serap ilmunya waktu mondok di tempat yang sama.

Tempat mondoknya memang berdekatan dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Insan, Desa Lenggadai Hulu, Kec Rimba Melintang, Rokan Hilir, Riau. Jadi malamnya mondok, paginya lanjut sekolah.

Mondoknya di sebuah musala sederhana yang kala itu masih berdinding dan berlantai papan. Usai ngaji, lanjut tidur di musala itu juga, karena memang tak tersedia asrama untuk santri laki-laki.

Sementara bangunan sekolahnya juga sederhana yang terdiri tiga lokal. Kelas satu se-lokal, kelas dua se-lokal dan kelas tiga juga se-lokal, plus satu ruangan untuk majelis guru.

Komplek areal sekolah ini juga relatif sepi sehingga nyaman untuk proses belajar mengajar, karena memang jauh dari keramain dan berada dibibir hutan. Untuk menjangkaunya masih masuk ke dalam dan terpisah dari jalan lintas Bagansiapiapi.

Dulu, sekitar  rentang tahun 1993-1996, saban hari saya bersepeda untuk bisa sampai ke sini. Jaraknya sekitar setengah jam-an. Tapi walaupun relatif jauh, cukup menyenangkan, karena bersepedanya ramai-ramai dan terkadang, di antara kami saling kebut bak balapan tour de singkarak..hahaha

Pasca tamat dari sini, saya melanjutkan pendidikan menengah atas ke Pekanbaru sampai kuliah, dan hingga akhirnya menetap di sana. Sementara beberapa teman, ada juga yang memilih melanjutkan sekolah di MA Yahusda, yang gedungnya bertetangga dengan MTs Nurul Insan, yang kini dipimpin Pak Nasuha.

Terhitung sampai tahun 2014 ini, tak terasa, sudah 18 tahunan berlalu meninggalkan masa-masa 'bersepeda' dulu. Kalau dalam rentang waktu itu baru belakangan ini berkunjung kembali ke sekolah, maka akan pangling, karena sudah banyak perubahan yang mencolok.

Jalan menuju sekolah sudah semenisasi dari pangkal sampai ke ujung. Bahkan cukup untuk dilintasi kendaraan roda empat. Kiri kanan jalan menuju sekolah juga sudah dipadati rumah-rumah penduduk.

@jalan menuju sekolah sudah semenisasi

Musala yang dulunya tempat kami mondok, kini juga sudah berubah. Klu dulu bentuknya bak rumah panggung berlantai dan berdinding papan, sekarang sudah batu. Tempat wudhunya juga tak perlu lagi jauh-jauh ke sumur galian di belakang, tapi sudah lebih mudah seperti tempat berwudhu di masjid-masjid kebanyakan, yang langsung menyatu dengan gedung musola.

@musala sudah bagus

Guru-guru pengajarnya juga sudah banyak yang tidak saya kenal. Dari sepuluh orang guru yang fotonya terpampang besar di dinding sekolah, hanya dua orang yang saya kenal: Pak Slamet sang kepala sekolah dan Pak Misno sang guru Sejarah.

@hanya kenal dengan Pak Slamet (tengah) dan Pak Misno (kiri duduk)

Belum lagi melihat gedung sekolahnya yang kini sudah makin WOW!!!, yang terdiri dari tiga gedung besar dengan warna cat yang cukup mencolok. Alhasil lokal belajarnya sudah makin banyak. Didepan lokal-lokal kelas, tertanam berbagai aneka bunga, semakin memperindah sekolah.

@bagian gedung baru terlihat dari kejauhan

@emperan sekolah yang makin nyaman

Tapi menariknya, walaupun sudah ada penambahan gedung baru yang lebih representatif, masih tersisa beberapa bagian bangunan gedung lama dan dibiarkan keasliannya. Jadi kalau kita ke sini, sepertinya masih bisa merasakan suasana seperti dulu-dulu.

@bagian sisa gedung lama yang masih dipertahankan

@emperan di gedung lama yang tersisa

@dilihat dari depan sisa lokal lama dan sedikit polesan

Dulu, waktu masih jadul-jadulnya berkopiah hitam, baju lengan panjang dan bercelana panjang: begitu lonceng istirahat berbunyi, yang dikejar bukan kantin, tapi lapangan bola voli yang terdapat di sisi depan sekolah. Kami pun berlari saling cepat untuk bisa mendapatkan posisi di lapangan. Tak peduli panas terik, main voli di jam istirahat sepertinya menjadi pilihan utama.

Kemudian bagi teman yang tak kebagian posisi di lapangan, harus siap antri menunggu tim yang kalah. Tim yang kalah harus rela diganti habis, dengan tim 'cadangan' yang sudah sabar menanti di pinggir lapangan.

Celakanya, permainan di set kedua untung-untungan pula. Terkadang belum sampai game, lonceng sudah memaksa semua murid kembali masuk melanjutkan proses belajar-mengajar.

Sambil berkeringatan yang masih deras mencucur, kami pun kembali berlarian berbondong-bondong masuk ke lokal masing-masing. Tak ayal, bau 'parfum' saling campur menyengat hidung memenuhi seantero lokal.

Tapi mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, sepertinya hirupan bau menyengat itu tidak menjadi masalah dan semua indung seolah-olah sudah kebal dengan bau-bau tersebut, hahaha. Udah sampai di situ dulu ceritanya. Semoga MTs Yanuri makin maju mencetak SDM-SDM berkualitas, amin. (*)

BACA JUGA:
- Amandel 99: Bukber Tahun Ini Lebih Heboh
- Hebohnya Buka Bersama Amandel 99
- STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
- Danau Buatan Masih Biasa-biasa Saja
- Indahnya Kota Klang dari Ketinggian Premiere Hotel

Minggu, 20 Juli 2014

Amandel 99: Bukber Tahun Ini Lebih Heboh

Syakdiah berusaha mempercepat langkahnya dengan berlari kecil agar bisa ikut berpose ramai-ramai bersama rekan Amandel 99, yang sudah duluan berdiri rapi.

Ia memang terlambat datang di acara Buka Puasa Bersama (Bukber) Amandel tahun ini (Sabtu, 19 Juli 2014) di Hotel Swiss-Belinn SKA, Jln Soekarno-Hatta, Pekanbaru (Riau). Tapi tak masalah dan patut diberi apresiasi. Sebab sudah bela-belain datang jauh dari Pangkalan Kerinci (Pelalawan).

Satu, dua, tiga, jepret...!!! lampu flash pun  memancar bak kilat dari kamera LSR bidikan Doni Hamdani.  Ulang..ulang..ulang, teriak Doni yang merasa jepretan pertamanya kurang maksimal. Peserta 'amak-amak' ini pun kembali pasang wajah manis. Barisan depan duduk di jejeran kursi, dan barisan belakang berdiri.

Syakdiah pun memilih duduk dideretan depan. "Bentar, bentar, tolong pegang anakku dulu," ujar Syakdiah yang terlihat bersemangat sambil memopong bayinya.



Ia memang datang bersama bayinya yang baru berumur beberapa minggu, tapi hebatnya, tak jadi penghalangnya untuk bisa hadir ingin melepas rindu dengan kawan-kawan sekolahnya dulu yang sudah tidak bertemu hampir 15 tahun lalu.

Salut buat Syakdiah. Tapi Syakdiah bukan sendiri yang rela datang jauh-jauh ke Pekanbaru. Beberapa teman juga patut di beri apresiasi, sebut saja Zainah yang bela-belain datang dari Siak, Nurhasanah dari Bengkalis, Tengku Ismet dari Ukui (Pelalawan), Dayat dari Pasirpengarayan.

Ada juga Firdaus dari Lipat Kain, Nurhayati dari Rokan Hilir, Itang dari Kampar dan lainnya. Bahkan Adi Sahata yang tengah dinas di Jakarta, bela-belain terbang balik ke Pekanbaru, untuk bisa kumpul bersama. Ia mendarat siangnya dan sore langsung meluncur ke Swiss-Belinn Hotel.
@adi sahata diapit para idola, debby dan lisa, hehehe, ada ismet dan syakdiah juga
@andri, alfi syahrin, syafruddin, kasri n firdaus
Salut buat mereka-mereka ini, tanpa mengecilkan kawan-kawan yang belum berkesempatan hadir. Ya, sudah dimaafkan dan dimaklumi dengan kesibukan masing-masing. Semoga lain kesempatan bisa kumpul bareng (bukan kumpul kebo ya, hahaha).

Tapi jangan salah, walaupun banyak teman-teman yang tidak berkesempatan hadir, tapi banyak juga di antara mereka yang tetap mengirim donasinya untuk kesuksesan acara, sebut saja Husni Thamrin di Batam, Iswati Ningsih dan Tengku Rini di Siak, Zamzami Kamal di Kuansing, Rina di Pangkalan Kerinci, Jay Effendi dan beberapa teman lainnya. Hebat!!!

Ini bukti, bahwa komunitas kecil kita ini ternyata sudah berangsur-angsur punya nilai dan punya tempat di hati kawan-kawan. Terima kasih semuanya. 

"Eh, keknya acara tahun ini lebih semarak dan lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Acaranya juga sukses," guman Melan yang sehari-hari bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kimpraswil Kota Pekanbaru.

@gaya itang nh ntah macam ape...diapit tepot jo melan
@ini namanya Verawati..
@fauziah dan zainah

@yudi, doni dan iswandi

@leti n nirwana
Memang tak kurang dari 40-an alumni 99 memadati privat room hotel berstandar Internasional tersebut (maaf, jangan berkecil hati foto kawan-kawan tak ditampilkan semua, tapi lengkapnya bisa buka di grup fb atau klik di SINI)

Saat acara berlangsung hebohnya juga minta ampun. Sepanjang acara dari pukul 17.00 WIB, sampai bubaran sekitar pukul 22.00 WIB, suara ketawa tak putus-putusnya saling bersautan. Ada-ada aja cerita teman-teman yang memancing gelak tawa.

Flash kamera juga tak henti-hentinya saling menyambar, baik dari kamera LSR yang dibawa Adi Sahata dan Doni Hamdani, ataupun dari kamera gadget masing-masing teman yang hadir. Semuanya berselfi ria. Mulai dari foto ramai-ramai, maupun foto berdua-dua. Gayanya juga macam-macam.

@ketua berselfi ria dengan Alfi Syahrin
@yehaaaa....melan gitu lho
Semuanya hanyut dengan sukaria pengobat rindu. Tak peduli dia seorang guru, pegawai negeri, sudah berumur, sudah amak-amak, sudah apak-apak, semua itu sejenak dikesampingkan. Pokoknya gembira seolah-olah masih anak belasan tahun seperti masa-masa sekolah dulu.

"Ayuk foto-foto dulu, bergaya ya," teriak Melan sambil pasang gaya 'imut-imut'-nya sambil menunggu kilatan kamera menjapret. Habis itu, kembali ketawa lepas.

@yetmi, melan, soe, nurhayati, nurhasanah dan dayat

@marfuah, ane, yetmi dan gustini
Apapun yang diceritakan, seolah semuanya menjadi lucu. Apalagi mengenang masa-masa sekolah dulu yang masih jadul-jadulnya. "Andri Fauzi ini dulu sering kami suruh-suruh beli goreng. Sekarang sudah sukses dia," kata Dayat mengenang masa indahnya berseragam abu-abu putih, dan kemudian kembali ketawa, hahaha.

Rasanya memang tak mau melewatkan moment 'mahal' ini. Namun beberapa orang teman memang harus dengan berat hati pamit duluan, seperti Syafruddin yang kini bertugas sebagai jurnalis di Harian Tribun Pekanbaru. "Aku duluan ya, ada acara yang tak bisa ditinggalkan," ujarnya berpamitan.

Begitu juga dengan Teddy Mardiansyah, yang harus buru-buru melanjutkan perjalanan panjangnya ke Taluk Kuantan guna menjemput isterinya yang bertugas di sana. Pak polisi ini pamitan setelah sesi poto-poto selesai.

Termasuk juga Zainah harus pamitan lebih dulu sebelum acara selesai. Sebab ia sudah dijemput untuk kembali pulang ke Siak. Begitu juga beberapa teman lainnya terpaksa harus bubar lebih duluan dengan kepentingan masing-masing.

Tapi tetap salut buat mereka semua. Walaupun hanya punya waktu yang sempit, tetap dibela-belain juga untuk ikut bukber, walaupun hanya sejenak. Tapi walaupun sejenak, kualitas pertemuannya membuat hebohnya pakai banget: heboh banget gitu lho, hehehe.

Melihat suasana yang benar-benar mencair dan penuh gelak tawa, terbayar lunas rasa capek Rizki Hairulsan dan kawan-kawan, yang sudah bersusah payah memfasilitasi acara tahunan ini.

"Alhamdulillah acaranya sukses. Apresiasi kawan-kawan membuat rasa capek sirna tak berbekas. Semoga kedepan jalinan silaturahmi seperti ini tetap bisa terpelihara dengan baik," harapnya.

Bahkan mantan Ketua OSIS MAN 2 (SMU MA Model) periode 97/98 ini sudah punya gagasan menarik agar kekuatan alumni ini benar-benar punya nilai. "Tapi nanti kita bahas lebih lanjut," ujarnya.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Teman-teman juga sudah berangsur berkurang. Tapi saya memilih tetap bertahan. Selagi masih ada  teman yang bertahan sambil ngemil-ngemil sisa perbukaan, saya tetap bertahan sampai benar-benar dinyatakan bubaran.

Bahkan di ujung-ujung acara, Verawati (hitam manis) pun nongol. Eh, rencana bubaran tertunda dan lanjut poto-poto kembali sambil makan-makan sekenyangnya.

@vera seperti lagi nahan sesuatu...hehehe
Kami yang tetap bertahan: Melan, Rizki, Doni, Nur Hasanah, Arik, Iyik, Dayat dan Vera. Kami  benar-benar sayang ingin membubarkan diri. "Nantilah pulangnya Deb," ujar Melan melarang Debby Ermanto yang izin minta pamitan duluan.

Berulang kali Debby pamitan, karena rumahnya rada jauh, tapi tetap saja dilarang oleh Nyak Melan. Beberapa kali ingin salaman pamitan, juga ditolak, hahahaha kasian Debby, hingga akhirnya tetap diizinkan pulang duluan!!!

Disela itu, iseng-iseng (mungkin juga serius), Melan jadi mak comlang dadakan Doni Hamdani dengan Mbak Arik, sampai-sampai wajah Mbak Arik dibuat memerah dan salah tingkah. Keduanya memang masih single. Hahaha, saya sih rapopo dan semoga saja jadian. Selanjutnya terserah mereka berdua.

@iyik dan Arik. Arik berusaha dicomlangin dengan donni, hehehe.

@donni: saya sih oke aja dengan Arik..hahaha

Selanjutnya, apa daya, hanya waktu yang tak bisa diajak kompromi. Pukul 22.00 WIB, akhirnya kami dipaksa bubar oleh waktu. Dengan berat hati kaki pun melangkah menuju lift untuk mengantarkan kami ke lantai dasar hotel.

Bye..bye...bye...sampai jumpa bukber tahun depan. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan suasana baru dan cerita-cerita baru, termasuk dengan peserta yang lebih ramai dan heboh.

Oh ya, Insha Allah juga akan digelar acara Halal bi Halal usai lebaran ini. Semoga dapat terlaksana sukses dan amandelnya makin solid, amin. (*)

saya lagi pacik hape seken, hehehe

BACA JUGA:
1. Hebohnya Buka Bersama Amandel 99
2. STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
3. Danau Buatan Masih Biasa-biasa Saja


Selasa, 15 Juli 2014

Air Hujan Harus Disaring Dulu


FOTO/IST

Banyak daerah di Riau, termasuk di kampung kelahiranku, Rokan Hilir (Riau), kebutuhan air bersihnya bersumber dari hujan. Sebab air yang bersumber dari sumur galian, kondisinya tawar. Tak hanya itu, warnanya juga coklat. Dua ciri itu saja, sebagai isyarat air tersebut tidak layak minum.

Air layak minum itu harus memenuhi syarat sebagai berikut: Jernih (tidak berbau, berwarna dan tawar), bebas kuman berbahaya, harus  mengandung Mineral dan tidak mengandung bahan Radioaktif. Tapi syarat-syarat ini sulit didapat di kampungku.

Beberapa tahun terakhir ini memang ada kemajuan, karena sudah banyak masyarakat yang memiliki sumur bor. Tapi jumlahnya masih sangat terbatas, karena hanya masyarakat mampu saja yang bisa membuat sumur tersebut.

Terus bagi masyarakat yang tidak mampu, tetap saja mengandalkan air hujan yang ditampung pada drum atau bak-bak ukuran besar.Jika kehabisan stok, maka pilihannya terpaksa mengkonsumsi air sumur yang tawar.

Pertanyaannya sekarang, apakah air hujan itu layak untuk di minum sebagai air sehat? Jawabnya tidak. Sebab dibutuhkan proses saring yang benar terlebih dahulu.

Kalau hanya untuk sekedar keperluan Mandi, Cuci dan Kakus (MCK), sebenarnya penggunaan air hujan tidak ada masalah.

Kemudian baru butuh perhatian, kalau dipakai untuk air minum. Sebab kandungan rata rata air hujan di Indonesia: mineralnya rendah, kesadahannya rendah, PH-nya juga rendah (antara 3,0 s/d 6,0), dan kandungan organiknya tinggi (>10).

Kemudian zat besinya juga tinggi (>0,3). Sehingga penggunaan air hujan untuk air minum dalam jangka panjang dikhawatirkan akan menyebabkan rapuhnya tulang dan gigi.

Sebenarnya ada solusi untuk itu, di antaranya, sebelum dimasak, air hujan tersebut harus disaring terlebih dahulu dengan saringan drum plastik yang berisi kerikil dan arang batok kelapa yang telah dibakar dan dicuci bersih.

Jika drumnya menggunakan plat, maka harus di cat terlebih dahulu. Seterusnya setelah disaring, kemudian ditampung dalam bak penampungan air yang terbuat dari semen ataupun tandon plastik. Mudah atau repot?. Kalau menurut saya masih repot dan merumitkan, bahkan kesehatan air-nya belum terjamin.

Tapi kalau mau praktis dan nyaman, Pureit layak menjadi pilihan. Sebab Pureit adalah cara mudah, praktis dan dengan harga yang terjangkau untuk mendapatkan air minum yang terlindungi dari kuman berbahaya.

Teknologi Pemurni Air Pureit ini bekerja dengan 4-tahap pemurnian air 'Teknologi Germkill' untuk menghasilkan air yang benar-benar aman terlindungi sepenuhnya dari bakteri dan virus.


PUREIT Water Filters (FOTO/ IST)
Empat Tahap Pemurnian Air yang dimaksud adalah:
  1. Saringan Serat Mikro, yang berfungsi mengilangkan kotoran.
  2. Filter Karbon Aktif, yang berfungsi menghilangkan parasit & pestisida berbahaya.
  3. Prosesor Pembunuh Kuman, yang berfungsi menghilangkan bakteri dan virus berbahaya yang tidak terlihat.
  4. penjernih, yang berfungsi membuat air jernih, tidak berbau dengan rasa yang alami.
Pureit juga memiliki jaminan perlindungan:
  1. Pureit Germkill Life Indicator, yang akan memberitahukan Anda beberapa hari sebelumnya kapan perlu mengganti 'Germkill Kit’.
  2. Mekanisme Penghentian Otomatis. Jika ‘Germkill Kit’ tidak diganti pada waktunya, ia secara otomatis akan menghentikan aliran air sampai penggantian dilakukan. Mekanisme penghentian otomatis Pureit ini akan menghentikan air sehingga air akan meluap dari Germkill Life Indicator. Hal ini akan menjamin anggota keluarga Anda akan selalu meminum air yang aman.
Kemudian Pureit juga bekerja dengan Germkill Kit (Perangkat Pembunuh Kuman) yang tahan lama dan dapat diganti.

Jadi sebelum mengkonsumsi air hujan yang turun dari langit, dengan mudah dan praktis di proses dulu dengan teknologi Pureit. Setelah itu air baru benar-benar aman terlindungi sepenuhnya dari bakteri dan virus untuk kemudian layak minum.

Sebagai referensi pengetahuan, banyak blog atau website yang sudah mengupas tentang berbagai kelebihan teknologi Pureit ini. Tinggal ditulis dengan keyword Pureit, ragam tulisannya akan muncul berderet. Silahkan dicoba sendiri. (*)


 Sumber:
1. geograficom-geografi.blogspot
2. pureitwater.com

NB: Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Blog Pureit

Rabu, 09 Juli 2014

AirAsia Adalah Sejarahku

Foto/destinasian.co.id
AirAsia adalah sejarahku. Sebab bersama maskapai inilah penerbangan perdana saya ke luar negeri. Memang tak jauh-jauh amat, hanya ke negeri jiran Malaysia, pada Selasa, 25 Januari 2013 lalu

Kala itu, bersama 16 blogger asal Indonesia lainnya, kami mendapat kehormatan mengunjungi sejumlah destinasi menarik secara gratis di seluruh wilayah Kenegerian Selangor dalam sebuah event My Selangor Story 2013.

My Selangor Story adalah sebuah event kompetisi blog internasional, yang diikuti 20 blogger asal Indonesia dan Malaysia. Selama lima hari empat malam (25-29 Januari 2013) di sana, kami menulis semua kesan tentang Selangor yang cukup menakjubkan di blog masing-masing. Sungguh sebuah kesan tak terlupakan.

Kami diajak keliling Selangor, yang meliputi Klang, Petaling Jaya, Gombak, Sepang, dan Kuala Selangor. Semua daerah yang kami lewati sangat mengesankan, termasuk pelayanan yang diberikan penaja, Selangor Tourism.

Banyak hal positif yang saya temukan. Disamping mengenal budaya masyarakatnya yang ramah dan taat aturan, ternyata di Selangor banyak destinasi yang mengundang decak kagum dan menjadi tujuan wisata masyarakat dunia.

Di antaranya sebut saja keindahan Kota Klang yang sarat dengan sejarah sebagai kota tua, tempat bermain Sunway Lagoon dengan ragam permainan menakjubkan, prosesi Thaipusam yang sarat dengan kegiatan religi, mewahnya bermalam di Resort Golden Palm Tree dan lain-lain.

Dulu waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, di kampung halaman, Desa Teluk Pulau Hilir (sebuah desa di Kabupaten Rokan Hilir, Riau) memang banyak terdengar tetangga yang pergi merantau ke negeri jiran Malaysia untuk bekerja.

Namun kala itu, banyak di antara mereka yang berangkat 'gelap', atau istilah sekarang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) Ilegal. Mereka berangkatnya pakai pompong kayu dan tak butuh waktu berhari-hari untuk bisa sampai.

Jarak Rokan Hilir dengan Malaysia memang hanya dipisahkan dengan Selat Malaka saja. Hebatnya, rata-rata perjalanan berlangsung mulus dan akhirnya banyak yang sukses bekerja di sana.

Saya pun terpikir, satu saat harus juga sampai ke Malaysia dan bekerja di sana, seperti tetangga lainnya, tapi tidak dengan cara 'gelap'.

Alhamdulillah, keinginan itu akhirnya terwujud pada 2013 lalu. Hanya saja bukan sebagai tenaga kerja, tapi sebagai penulis blog, lewat event My Selangor Story 2013, yang hanya berlangsung empat hari.

Dan Maskapai AirAsia adalah saksi sejarah tersebut. Maskapai penerbangan terdepan Asia inilah yang menerbangkan saya, sekaligus sebagai penerbangan internasional pertama ke luar negeri. "Akhirnya sampai juga kaki ini menginjak bumi Malaysia," guman saya kala itu.

Praktis, begitu ingat Malaysia, ingat dengan AirAsia. Begitu pula sebaliknya, ingat AirAsia, akan ingat Malaysia, karena dia sudah menjadi bagian dari sejarah hidup: penerbangan perdana ke luar negeri menggunakan AirAsia. Semoga perjalanan keluar negeri lainnya segera menyusul, hehehe.

Saya (baju putih), bersama Muhammad Beni Saputra (blogger asal Jambi)
saat baru tiba di LCCT Airport, Kuala Lumpur.
Kala itu saya diterbangkan dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Riau, Indonesia dan mendarat di Low Cost Carrier Terminal (LCCT) Airport, Kuala Lumpur, Malaysia, bersama seorang blogger asal Jambi, Muhammad Beni Saputra. Blogger lainnya diterbangkan dari daerahnya masing-masing, seperti Jakarta, Aceh dan Surabaya.

Penerbangan yang hanya beberapa menit itu berjalan mulus dengan segala pelayanan yang ramah. Saya juga sempat berbelanja snack dan aksesoris berbau AirAsia di atas ketinggian penerbangan. 

Berpose di pintu keluar LCCT Airport, Kuala Lumpur, Malaysia.
AirAsia adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif murah yang berpusat di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Sejak 2001, AirAsia langsung mengubah norma-norma perjalanan di dunia, dan muncul menjadi yang terbaik. Dengan jaringan rute yang membentang di lebih dari 20 negara.

AirAsia terus membuka jalan bagi penerbangan berbiaya terjangkau lewat solusi inovatif, proses efisien dan pendekatan yang baru dalam pengembangan bisnisnya.

Semoga kedepan, AirAsia terus berkembang dan berjaya sesuai dengan cita-cita perusahaan sebagai maskapai penerbangan terdepan. Terpenting lagi, bisa kembali menjadi saksi sejarah perjalanan saya ke destinasi luar negeri lainnya, amin. (*)

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia

Selasa, 20 Mei 2014

Tradisi Silat Nikahan yang Makin Memudar

Dulu, waktu masih kanak-kanak, setiap ada acara nikahan, ada dua agenda yang paling saya tunggu-tunggu. Pertama malam inaian dan kedua, saat mengantar penganten laki-laki ke rumah mempelai perempuan. Sebab kedua moment ini ada silat-silatnya.

Saat inaian ada silat piring. Kemudian saat prosesi mengantar pengantin laki-laki, ada tarung silat yang cukup menarik di lapangan terbuka.  Setelah itu baru penganten laki-lakinya di persilahkan masuk.

Mereka yang ingin tampil juga antrean. Antara pesilat berebut ingin menampilkan kebolehannya di tengah kerumunan masyarakat. Seolah-olah acara seperti ini menjadi panggung resmi yang sangat dinanti bagi mereka yang jago silat.

Tapi sejak pindah ke Pekanbaru, tahun 1996 silam, tradisi seperti ini tak pernah lagi saya saksikan. Karena memang tidak pernah pulang kampung untuk sekedar menyaksikan acara resepsi nikahan. Paling kalau pulang, hanya lebaran saja.

Terus saat nikahan adik, Jumat dan Sabtu (16-17/5/2014) lalu, tradisi ini akhirnya saya saksikan kembali, setelah 18 tahun berlalu. Tepatnya di Desa Teluk Pulau Hilir, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Indonesia.

Saat menyaksikan malam inaian, saya melihat ada sesuatu yang beda dari tradisi yang dulu-dulu. Jika dulu yang tampil itu berasal dari masyarakat umum: siapa saja boleh tampil, tapi memang harus yang ahlinya.

Tapi sekarang sudah ada tim penari khusus yang sengaja diundang. Mereka semua perempuan. Bahkan sebelum sesi tari piring, diawali tari zapin oleh beberapa anak gadis berpakaian seragam yang memang sudah terlatih.
silat piring oleh remaja putri
silat piring oleh remaja putri

Tampilannya memang lebih tertib, beratur dan menarik yang diiringi musik rebana. Tapi sepertinya sudah tidak terbuka lagi untuk masyarakat umum yang ingin tampil silat piring. Apakah pergeseran konsep ini disebabkan makin minimnya orang-orang yang menguasai silat piring tersebut.


tari zapin oleh sekumpulan remaja putri
Mungkin ada benarnya. Terbukti saat sesi silat tarung di lapangan terbuka keesok harinya, saat prosesi pengantaran pengantin laki, sulit sekali mencari orang yang punya keahlian untuk tampil bersilat.

Bahkan terkesan hanya simbolis saja, untuk menjaga tradisi silat yang sudah berlangsung sejak nenek moyang dulu. Yang tampil juga terkesan asal-asalan, karena memang tidak memiliki kemampuan silat yang mumpuni. Sehingga moment ini sudah tidak terlalu menarik lagi untuk ditonton.

Jika dulu banyak 'pendekar' yang ingin menampilkan kebolehan silatnya, tapi sekarang mesti harus dicari-cari dan didorong-dorong. Orang yang tidak mengerti silat-pun, dipaksa untuk tampil hanya untuk memenuhi syarat tradisi silat.

dua pesilat tengah menampilkan kebolehannya

dua pesilat tengah menampilkan kebolehannya

Kalau keadaan seperti ini terus berlarut-larut, tanpa ada regenerasi, maka tradisi silat berpotensi musnah. Maka tradisi silat-silat ini bisa tinggal sejarah dan dianggap tidak penting lagi. Menjadi tugas kita bersama untuk memikirkannya. Langkah tepatnya, mungkin bisa saja setiap daerah kembali dihidupkan perguruan-perguruan silat.

Jenis-jenis silat yang pernah saya dengar di tengah masyarakat kita, terutama Melayu Rokan Hilir, ada namanya silat tiga bulan dan silat bungkar. Silat tradisional ini dibina secara swadaya oleh orang tua-tua kampung yang ahli.

pesilat tengah memperagakan kebolehannya dihadapan mempelai
Tapi sepertinya sekarang sudah sulit sekali mencari perguruan-perguruan seperti ini. Terlebih lagi anak-anak sekarang lebih suka menghabiskan waktunya main game, internetan dan lainnya yang lebih canggih.

Kalau ini dibiarkan, maka generasi silat kita bisa pupus, karena kita tak punya bibit yang bisa diharapkan untuk menurunkan kemampuannya kepada generasi berikutnya. Kalau sudah begini, maka tamatlah tradisi silat kita.

Kondisi serupa mungkin tidak hanya di Rokan Hilir. Di daerah lainnya juga mengalami hal yang sama. Semoga ini segera di sikapi, terutama para pemangku kepentingan agar tradisi ini tidak lenyap dimakan zaman. Semoga saja, amin. (*)


BACA TULISAN LAIN:
Meneladani Budaya Gotong Royong di Teluk Pulau Hilir
Dulu Asyiknya Ada Tempat Ngopi di Puswil Soeman HS
Goyang Oplosan Hebohkan Acara Reuni Akbar STIE Purna Graha Pekanbaru 
Berkunjung ke Alam Mayang
STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
Danau Buatan Masih Biasa-biasa Saja
Meliuk-liuk Menuju Jembatan Pangean di Kuansing
Bakar Tongkang di Rohil
Stadion Utama Riau
Taman Marga Satwa Kasang Kulim  


Senin, 19 Mei 2014

Meneladani Budaya Gotong Royong di Teluk Pulau Hilir

Jumat (16/5/2014) lalu, saya pulang kampung ke Rokan Hilir, setelah hampir setahun tidak pulang. Tepatnya di Kepenghuluan Teluk Pulau Hilir, Kecamatan Rimba Melintang.

Kepenghuluan itu sebutan lain dari Desa. Kepenghuluan ini berada di jalan lintas menuju Kota Bagansiapiapi. Dari Kepenghuluan ini ke Ibukota Rokan Hilir tersebut, masih menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam lagi dengan bersepeda motor atau kendaraan roda empat.

Begitu sampai di rumah, ramai betul saya lihat orang-orang berkumpul. Saya pun menyalami mereka satu-satu, walaupun akhirnya tidak semua tersalami, karena mereka tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Ada yang mengiris bawang, ada yang tengah memasak air, menanak nasi, mengangkat kayu, mengaduk gulai dan macam-macam. Sesekali terdengar gelak tawa renyah di tengah kesibukan mereka.

"Udah limo ai kami disiko menolong umak kau buat kue," ujar seorang tetangga di tengah perbincangan rindu karena sudah lama tidak berjumpa dengan bahasa khas logat Melayu Rokan Hilir.

Sudah lima hari kami di sini menolong ibumu buat kue: Begitu kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Ya, mereka semua tengah sibuk membantu orangtua saya, yang tengah bersiap menggelar acara resepsi pernikahan adik keempat saya, Yenni. Puncak acaranya sehari kemudian, Sabtu (17/5/2014).

dapur umum memasak kebutuhan acara

Jauh hari sebelum rangkaian persiapan ini, sempat juga dilangsungkan rapat pembentukan panitia yang dihadiri masyarakat setempat dan beberapa sanak family terdekat.

Mereka semua tidak saja menyatakan membantu tenaga, tapi juga membantu dana untuk menyukseskan acara. Bahkan tidak sedikit yang menyumbang dalam bentuk barang.

Tradisi seperti ini, walaupun tidak tersurat, tapi begitu ada sebuah helatan, pasti selalu didahului rapat warga untuk membantu segala hal yang sudah menjadi tradisi. Tradisi ini masih terjaga dengan baik sejak berpuluh tahun silam.

"Mie putih dan minyak goreng itu, sumbangan dari beberapa tetangga. Masih banyak lagi sumbangan yang lain," ujar Emak begitu saya tanya mengapa Mie Putih dan Minyak Goreng tertumpuk terlalu banyak.

para emak-emak sibuk menyiapkan bumbu
Alhamdulillah, acara pun berlangsung sukses. Bapak dan Emak lebih banyak duduk dari pada bekerja. Sebab semua pekerjaan sudah diambil alih oleh tetangga dan sanak family. Tuan rumah memang di larang bekerja lebih.

Saat malam hiburan berlangsung, semua masyarakat juga saling menjaga keamanan dan ketertiban. Tua, muda dan anak-anak berbaur menikmati malam hiburan berupa orgen tunggal.

Hebatnya, walaupun malamnya sudah pulang larut malam menyaksikan hiburan, pagi-pagi sebagian dari mereka sudah kembali lagi berkumpul untuk membersihkan sisa-sisa dari acara tersebut.

Barang-barang pinjaman, seperti papan untuk panggung, dikembalikan kepada pemiliknya beramai-ramai. Siap dari situ, dilanjutkan makan siang bersama. Suasana kekeluargaan dan silaturahmi begitu kental terasa.
mengantar papan usai dipakai untuk acara

makan bersama siap kerja
bekombo-kombo di sela kesibukan

Dalam hati berguman: ternyata budaya gotong-royong seperti ini masih terjaga dengan baik di sebuah desa bernama Teluk Pulau Hilir ini. Mungkin beberapa desa tetangga lainnya di wilayah Rokan Hilir, juga masih memegang teguh budaya serupa, mungkin juga beberapa daerah lainnya di Riau.

Selama saya tinggal di Pekanbaru, pemandangan seperti ini memang terasa langka. Kalau ada acara resepsi pernikahan atau acara-acara lainnya, semua kebutuhan selalu sudah siap saji.

Kalau kebutuhan makan, tinggal hubungi catering dan hasilnya tinggal beres. Untuk persiapan acara, tinggal hubungi event organizer dan seterusnya. Apalagi kalau helatannya berlangsung di hotel, semuanya sudah beres. Yang punya gawe cukup siapkan piti-pitinya saja, hehehe.

Memang lebih praktis dan efisian, tapi nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan terkikis habis.

Makin ke sini, sikap individualisme masyarakat kita memang makin terasa sekali. Tapi paling terasa itu di lingkungan elit masyarakat perkotaan. Untuk masyarakat di kampung-kampung, budaya gotong royong secara umum masih terjaga dengan baik, contohnya di Kepenghuluan Teluk Pulau Hilir tadi, yang layak untuk ditauladani.

Dulu waktu masih kecil-kecil, melihat orang bekerja ramai-ramai (gotong-royong) sudah lazim. Kalau ada warga bangun rumah, selalu dikerjakan dengan gotong-royong. Dalam sehari rumah panggung yang terbuat dari kayu sudah berdiri.

Begitu juga kalau musim berladang tiba. Warga bergantian bergotong-royong membuka persawahan untuk ditanami padi. Apalagi kalau membuka akses-akses umum, seperti jalan, rumah ibadah atau sekolah, pasti dikerjakan dengan beramai-ramai dengan masyarakat sekitar.

Semoga budaya ini bisa terus terjaga dengan baik (sesungguhnya sudah mulai terkikis). Sehingga nilai-nilai kekeluargaan dan silaturahmi, terus dapat terpupuk dengan baik lewat budaya gotong-royong tersebut di tengah masyarakat kita, amin. (*)


BACA TULISAN LAIN:
Dulu Asyiknya Ada Tempat Ngopi di Puswil Soeman HS
Goyang Oplosan Hebohkan Acara Reuni Akbar STIE Purna Graha Pekanbaru 
Berkunjung ke Alam Mayang
STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
Danau Buatan Masih Biasa-biasa Saja
Meliuk-liuk Menuju Jembatan Pangean di Kuansing
Bakar Tongkang di Rohil
Stadion Utama Riau
Taman Marga Satwa Kasang Kulim  


Keliling Riau Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger