MENGUNJUNGI kawasan wisata Danau Buatan, menjadi pengalaman
mengesankan saat pertama kali tiba di Pekanbaru, tahun 1996 silam. Saat itu saya bersama
beberapa orang teman baru saja menyelesaikan Sekolah Lanjutan
Pertama di Lenggadai Hulu, Rokan Hilir.
Sebagai anak kampung yang baru pertama kali sampai di kota, saya terkagum-kagum melihat keramaian orang, termasuk saat berada di destinasi Danau Buatan.
Begitu juga saat melihat banyaknya ruko-ruko yang terbangun di berbagai sudut Pekanbaru. Belum lagi melihat rayapan mobil-mobil yang memadati ruas-ruas jalan. Dalam hati berguman: kek gini ya rupanya kota, yang selama ini hanya tau lewat televisi. Hehehe, dasar udik.
Di kampung, hanya bisa melihat mobil satu-satu. Bangunan ruko kala itu nyaris tak ada. Kalau berangkat sekolah, menggunakan sepeda kayuh beramai-ramai dengan teman-teman.
Eh, tapi tak disangka, beberapa minggu sepulang dari Pekanbaru, orangtua mengirim saya berangkat kembali ke Pekanbaru, guna melanjutkan Sekolah Menengah Atas. Asyik...!!! (Langsung terbayang Danau Buatan)
Beberapa teman, juga ikut dikirim orangtuanya masing-masing ke Pekanbaru, walaupun beda keberangkatan, seperti Mulyadi, Sugio, Irwansyah, Sukardi dan mungkin beberapa teman lainnya.
Di Pekanbaru, kami juga beda sekolah. Saya dan Sukardi memilih bersekolah di MAN 2 (SMU MA MODEL), Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Saya pun aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.
Menariknya, kawasan Danau Buatan menjadi tempat kami menggelar berbagai kegiatan, di antaranya perkemahan. Praktis, tempat ini akhirnya menjadi sangat dekat dengan saya. Padahal waktu pertama berkunjung dulu, rasanya tak yakin bisa datang kembali.
Namun setelah temat dari MAN 2 (SMU MA Model) Pekanbaru, tahun 1999, sejak itu pula, saya tak pernah lagi datang ke Danau Buatan, kendati saya akhirnya menetap di Pekanbaru. (Eh sorri, pernah datang sekali bersama mantan pacar, sekarang jadi istri. Tapi itu sudah lama juga, hehehe).
Cerita berikutnya, Sabtu, 12 April 2014 lalu, bersama isteri, dua orang putri dan dua orang anak tetangga, saya kembali menyambangi tempat yang sarat kenangan ini. Saking lamanya tak ke sini, sempat pula nyasar, karena salah masuk jalan. Mestinya dalam setengah jam sudah sampai, akhirnya menjadi satu jam.
Terbayang di benak, tempat ini pasti jauh lebih baik dan menarik, karena sudah lama sekali tak datang ke sini. Eh taunya, tak sesuai ekspektasi.
Begini ceritanya (hehehe, macam betul aje): saya datang sekitar pukul 16.00 WIB lewat sikit. Begitu sampai di pintu gerbang masuk, kecepatan mobil diperlambat, karena pasti akan dicegat oleh petugas jaga minta duit karcis masuk.
Tapi taunya, tak ada penjaga yang terlihat: lumayan bisa masuk gratis. Mobil yang saya kemudikan, kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Namun begitu mendekati tempat parkir, dari balik pohon, keluar seorang laki-laki yang sudah apak-apak. Dia langsung minta duit karcis, tapi tak ada kertas karcisnya. Malas berdebat, saya langsung keluarkan duit Rp 15 ribu, sesuai yang diminta.
"Dengan jumlah ini, biasanya Rp 30 ribu, tapi karena datangnya sudah sore, Rp 15 ribu saja," ujar Apak-apak itu setelah melihat jumlah kami dalam mobil (dua orang dewasa dan empat orang anak-anak).
Begitu sudah masuk, saya memang tidak melihat ada sesuatu yang istimewa di bandingkan dengan kunjungan pertama dulu. Tak ada kuda, tak ada live musik, bahkan pengunjungnya sepi sekali. Mungkin karena saya datangnya Sabtu. Tapi kalau hari Minggu atau tanggal merah lainnya, mungkin ramai kali ya.
Tapi secara umum, lingkungannya relatif bersih dan tertata rapi. Tak ada sampah-sampah berserakan. Toiletnya juga bersih. Jalan-jalan penunjang di sekitar kawasan juga licin aspal dan berpaving block. Pohon-pohon pelindung juga terlihat menjulang tinggi dan hijau.
Yang membedakan, sekarang di pinggir danau terlihat stadiun peninggalan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII yang sempat berlangsung di Riau pada 2012 lalu. Stadion berlantai dua ini untuk penonton yang menyaksikan olahraga dayung. Tapi kursi penontonnya sudah dicabut.
Melongok di dalam Danau, hanya ada satu sepeda sampan yang tengah bergerak. Sementara sampan lainnya yang terlihat sudah uzur, parkir di pinggiran danau. "Mau naik sampan pak," sapa seorang anak kecil penjaga sampan. "Gak, panasnya terik kali," jawab saya singkat.
Di pinggir Danau, terlihat ada dua orang pria yang tengah mancing, tapi selama saya perhatikan, tak pernah pula pancingnya di santap ikan. Kasian. Sementara tak jauh dari itu, beberapa anak kecil, tengah mandi berkubang di bawah terik matahari sore.
Setelah puas mengitari beberapa tempat di sini dan sempat jepret sana sini, isteri saya langsung berguman. "Tak ada yang menarik," celetuknya.
Panggung band yang biasanya menjadi arena live musik, terlihat sudah berlumut, sepertinya memang sudah lama tidak dipakai. Begitu perut keroncongan, juga tak banyak pilihan tempat makan yang membangkitkan selera.
Di pinggir-pinggir danau, memang terlihat ada pondok-pondok kecil, sepertinya menyediakan ragam makanan, tapi kesannya tidak tertata dengan baik. Terus apa yang menarik di sini sebagai tempat rekreasi. Ntahlah. Tapi kalau isteri saya bilang, tak ada yang menarik dan biasa-biasa saja.
Tapi penilaian itu jangan ditanggapi ya, karena sarat dengan subjektifitas. Bagi kawula muda yang tengah memadu kasih, mungkin saja tempat ini sangat menarik, karena suasananya sangat mendukung. Hehehe.
Semoga saja pengelolanya, segera melakukan langkah-langkah strategis agar kawasan Danau Buatan ini menjadi lebih menarik dan menjadi tujuan wisata utama, menyusul minimnya tempat rekreasi yang representatif di Pekanbaru, amin... (*)
BACA TULISAN LAIN:
Berkunjung ke Alam Mayang
STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
Meliuk-liuk Menuju Jembatan Pangean di Kuansing
Bakar Tongkang di Rohil
Stadion Utama Riau
Taman Marga Satwa Kasang Kulim
Sebagai anak kampung yang baru pertama kali sampai di kota, saya terkagum-kagum melihat keramaian orang, termasuk saat berada di destinasi Danau Buatan.
![]() | ||
Danau Buatan tahun 1996. Dari kiri: Irwansyah, Sukardi, Saya, Mulyadi, Suhaidi dan Surya. Culun banget..hehe |
Di kampung, hanya bisa melihat mobil satu-satu. Bangunan ruko kala itu nyaris tak ada. Kalau berangkat sekolah, menggunakan sepeda kayuh beramai-ramai dengan teman-teman.
Eh, tapi tak disangka, beberapa minggu sepulang dari Pekanbaru, orangtua mengirim saya berangkat kembali ke Pekanbaru, guna melanjutkan Sekolah Menengah Atas. Asyik...!!! (Langsung terbayang Danau Buatan)
Beberapa teman, juga ikut dikirim orangtuanya masing-masing ke Pekanbaru, walaupun beda keberangkatan, seperti Mulyadi, Sugio, Irwansyah, Sukardi dan mungkin beberapa teman lainnya.
Di Pekanbaru, kami juga beda sekolah. Saya dan Sukardi memilih bersekolah di MAN 2 (SMU MA MODEL), Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Saya pun aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.
Menariknya, kawasan Danau Buatan menjadi tempat kami menggelar berbagai kegiatan, di antaranya perkemahan. Praktis, tempat ini akhirnya menjadi sangat dekat dengan saya. Padahal waktu pertama berkunjung dulu, rasanya tak yakin bisa datang kembali.
Namun setelah temat dari MAN 2 (SMU MA Model) Pekanbaru, tahun 1999, sejak itu pula, saya tak pernah lagi datang ke Danau Buatan, kendati saya akhirnya menetap di Pekanbaru. (Eh sorri, pernah datang sekali bersama mantan pacar, sekarang jadi istri. Tapi itu sudah lama juga, hehehe).
Cerita berikutnya, Sabtu, 12 April 2014 lalu, bersama isteri, dua orang putri dan dua orang anak tetangga, saya kembali menyambangi tempat yang sarat kenangan ini. Saking lamanya tak ke sini, sempat pula nyasar, karena salah masuk jalan. Mestinya dalam setengah jam sudah sampai, akhirnya menjadi satu jam.
Terbayang di benak, tempat ini pasti jauh lebih baik dan menarik, karena sudah lama sekali tak datang ke sini. Eh taunya, tak sesuai ekspektasi.
Begini ceritanya (hehehe, macam betul aje): saya datang sekitar pukul 16.00 WIB lewat sikit. Begitu sampai di pintu gerbang masuk, kecepatan mobil diperlambat, karena pasti akan dicegat oleh petugas jaga minta duit karcis masuk.
Tapi taunya, tak ada penjaga yang terlihat: lumayan bisa masuk gratis. Mobil yang saya kemudikan, kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Namun begitu mendekati tempat parkir, dari balik pohon, keluar seorang laki-laki yang sudah apak-apak. Dia langsung minta duit karcis, tapi tak ada kertas karcisnya. Malas berdebat, saya langsung keluarkan duit Rp 15 ribu, sesuai yang diminta.
"Dengan jumlah ini, biasanya Rp 30 ribu, tapi karena datangnya sudah sore, Rp 15 ribu saja," ujar Apak-apak itu setelah melihat jumlah kami dalam mobil (dua orang dewasa dan empat orang anak-anak).
disambut ucapan selamat datang |
hijau dan sejuk, tapi sepi pengunjung |
pohon-pohon rindang berjejer di pinggiran danau |
menyusuri pinggiran danau dengan jalan paving block |
stadion terlihat dari belakang |
stadion terlihat dari depan |
melihat ke arah danau dari atas stadion yang kursinya sudah dicopot |
sepeda sampan tengah parkir |
sampan dayung dan sepeda sampan tengah parkir |
mancing |
Panggung band yang biasanya menjadi arena live musik, terlihat sudah berlumut, sepertinya memang sudah lama tidak dipakai. Begitu perut keroncongan, juga tak banyak pilihan tempat makan yang membangkitkan selera.
panggung musik yang sudah berlumut |
Tapi penilaian itu jangan ditanggapi ya, karena sarat dengan subjektifitas. Bagi kawula muda yang tengah memadu kasih, mungkin saja tempat ini sangat menarik, karena suasananya sangat mendukung. Hehehe.
Semoga saja pengelolanya, segera melakukan langkah-langkah strategis agar kawasan Danau Buatan ini menjadi lebih menarik dan menjadi tujuan wisata utama, menyusul minimnya tempat rekreasi yang representatif di Pekanbaru, amin... (*)
BACA TULISAN LAIN:
Berkunjung ke Alam Mayang
STIE Purna Graha Pekanbaru Makin Kinclong
Meliuk-liuk Menuju Jembatan Pangean di Kuansing
Bakar Tongkang di Rohil
Stadion Utama Riau
Taman Marga Satwa Kasang Kulim
seru tuh gan :)
BalasHapusg ada yg menarik....hehehe
Hapus