Widget edited by super-bee

Goresan Cah Melayu

Sabtu, 23 November 2013

Meliuk-liuk Menuju Jembatan Pangean di Kuansing

Tit..tit..mobil seorang teman, Toyota Rush sudah tiba didepan rumah, tepat pukul 08.30 WIB, Sabtu, 23 November 2013. Pagi ini kami akan berangkat ke Kabupaten Kuantan Sengingi (Kuansing).

Tujuannya adalah Desa Pulau Tongah, Kecamatan Pangean. Kami ingin melihat proyek jembatan sepanjang sekitar 300 meter yang melintasi Sungai Kuantan, yang menghubungkan Desa Pulau Tongah dengan Desa Padang Tanggung.

Teman saya ini, namanya AR Hamid. Menurutnya jembatan tersebut dibangun berkat perjuangan koleganya yang duduk di DPRD Provinsi Riau dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dapil Inhu-Kuansing yang menjabat periode 2009-2014.

Sepengetahuan AR Hamid, koleganya itu berhasil memperjuangkan dana pembangunan tersebut sekitar Rp 6,3 miliar lewat pos APBD Provinsi Riau 2013, dengan nama mata anggaran Pembangunan Jembatan Pangean. Kemudian ada pula bantuan sekitar Rp 3 miliar lebih yang bersumber dari APBN. Maka total-totalnya mencapai lebih kurang Rp 10 miliar.

Karena sudah memasuki massa akhir tahun, AR Hamid ingin melihat-lihat progres kerja proyek tersebut. Apakah jembatan yang dibantu koleganya itu sudah tuntas dikerjakan. Sebab keberadaan jembatan itu sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Jembatan ini sesungguhnya sudah mulai digarap sejak 2012 lalu dengan anggaran yang berbeda lagi.

Kemudian saya diminta menemaninya, bersama dua teman lainnya. Maka jadilah kami berangkat berempat orang dari Pekanbaru menuju kabupaten yang dipimpin H Sukarmis tersebut.

Toyota Rush kami pun meluncur dengan kecepatan sedang dan kadang-kadang kencang juga, lari-lari 80-100. Perjalanan normal, 4 jam ditargetkan sudah sampai di Taluk Kuantan, Ibukota Kabupaten Kuansing. Dari Taluk, masih ada perjalanan sekitar 1 jam lagi baru sampai ke Desa Pulau Tongah, lokasi yang menjadi tujuan utama kami.

Eh, tau-taunya, target 4 jam meleset. Hampir dua jam perjalanan, saya minta mobilnya rehat sebentar. Perut saya mual-mual serasa dikocok-kocok. Tak pelak, saya pun: huekkkk..muntah deh. Dua kali saya huek-huek. Hehehe.

Jalan nasional lintas Barat menuju Taluk Kuntan ini sungguh berliuk-liuk. Baru keluar dan terlepas dari puluhan liukan dibelakang, sudah menunggu ratusan liukan didepan. Jalan ini sepertinya tengah menyisiri lereng-lereng bukit yang kiri kanan jalannya terhampar luas kebun sawit, dan terkadang ketemu juga kebun karet dan pepohanan kayu semak belukar.

salah satu ruas jalan dengan lintasan yang meliuk
Berhenti kita dulu. Pinta saya kepada teman yang menyetir mobil.

Kepala saya pusing kali. Rasa-rasanya mau pecah. Apa yang ada diperut, perasaan ingin muncrat keluar. Maka kami pun berhenti sebuah warung penjual nasi dan makanan-makanan ringan.

Saya memilih memesan teh hangat sekedar untuk menyegarkan badan kembali. Menurut tuan kedai itu, kami baru sampai di daerah kabun lada. "Tapi kebun ladanya (cabe) g ada," celetuk tuan kedai bernada seloro. Kami pun sama-sama ketawa seperti orang yang sudah kenal lama.

Saya lihat kiri kanan dan depan kedai tersebut, tak ada  tiang listrik. Sepertinya listrik PLN belum masuk. "Listriknya dari genset," ujar tuan kedai menjawab pertanyaan saya sambil tangannya seperti mengengkol mesin, mengisaratkan sumber mesin mereka dari genset, yang jika ingin dihidupkan mesti diengkol dulu dengan tangan.

Tak terasa hampir 30 menit kami rehat di warung kebun lada tersebut. Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali menembus liuk-liukan jalan menuju arah Taluk Kuantan.  Akhirnya tiba juga kami di kota tempat di helatnya event nasional pacu jalur tersebut.

Kotanya lumayan tertib dan bersih dengan kontur tanah berbukit-bukit. Dari kejauhan, terlihat stadion sepakbola termegah di kota itu dari ketinggian jalan. Gedung-gedung pemerintahnya juga menarik, seperti gedung Polres, DPRD, Kantor Bupati dan lainnya. Bahkan ada satu tugu di satu persimpangan jalan yang menurut saya cukup unik.

Dalam hati saya berguman, seperti benda langit yang baru jatuh ke bumi, hehehe...saya pun sempat-sempatkan mengabadikan tunggu ini membuktikan saya pernah melintas di tugu ini.

sebuah tugu di tengah kota Taluk Kuantan
Sesampai di Taluk Kuantan, kami singgah sejenak di sebuah tempat makan: Resto Indracola mengisi 'kampung tengah' dan solat zuhur, sambil menjemput seorang teman, yang akan menjadi penunjuk jalan menuju Desa Pulau Tongah, yang berjarak sekitar 1 jam lagi dari Taluk Kuantan.

makan di Resto Indracola di Taluk Kuantan 
Setelah semua beres, perjalanan kembali berlanjut. Pemandangannya lumayan menyejutkan mata, dengan hamparan persawahan masyarakat setempat di kiri kanan jalan.

Sambil ngobrol sana sini, termasuk juga membahas soal berita "SBY Dipakuk Rp 20 Juta di Sumbar", akhirnya kami sampai juga di lokasi yang menjadi tujuan utama: Jembatan Pangean, sebuah jembatan yang menghubungkan Desa Pulau Tongah dengan Desa Padang Tanggung. Eh, ternyata jembatannya belum siap.

onggokan tiang besi dekat pembangunan jembatan

Di lokasi itu, kami didampingi seorang tokoh masyarakat setempat yang biasa disapa dengan panggilan Bang Heri. Beliau sepertinya paham betul proses pembangunan jembatan tersebut, termasuk sejak masih proses penganggaran di dewan dulu. Bahkan lahan yang dihibahkan untuk membangun jembatan itu, masih ada hubungan keluarga dengannya.

Sesampai di lokasi jembatan, AR Hamid langsung jepret sana, jepret sini dari kamera saku yang sengaja di bawanya. Melihat dia jepret-jepret, saya pun ikut jepret-jepret, hehe, naluri jurnalis langsung muncul.

AR Hamid dan rekan berpose dengan latar Jembatan Pangean belum siap

kondisi proyek tanpa aktivitas
Sementara di lokasi proyek dengan nilai pagu sekitar Rp 10 miliar ini tak terlihat ada aktivitas lagi. Papan plang proyek juga tak ada. Yang terlihat hanya satu tiang pondasi di Desa Pulau Tongah dan satunya di desa seberang, Desa Padang Tanggung.
salah satu tiang jembatan di Desa Pulau Tongah
Kemudian di dalam sungai terlihat dua tiang penyangga. Menurut Bang Heri, mestinya masih ada dua tiang lagi yang harus dibangun pada pelaksanaan 2013 ini. Tiang itu posisinya di tengah sungai. Tapi Bang Heri mengaku tidak tau pasti, mengapa pekerjaan dua tiang itu tidak dilanjutkan, sementara tahun kerja 2013 sudah sangat mepet. Sebab sudah masuk November.

AR Hamid yang melihat kondisi ini terkaget-kaget. Dalam benaknya, tiang-tiang pancang yang akan menjadi penyanggah jembatan tersebut sudah tuntas dibangun. Sebab sudah akhir tahun. Tapi ternyata apa yang ia lihat di luar ekspektasinya.

"Ternyata belum siap, tapi pekerja kok tidak terlihat lagi," ujarnya setengah berbisik.

Padahal menurut perencanaan yang ia ketahui, pada anggaran 2014 dan 2015 mendatang, tahap pembangunannya sudah membuat landasan jalan. Kemudian pada 2016 ditargetkan sudah bisa dilintasi oleh masyarakat. Itu artinya tak perlu lagi masyarakat menggunakan perahur penyebarangan.
perahu penyeberangan tengah menunggu penumpang

seorang nelayan melintas tak jauh dari lokasi proyek jembatan
Tapi kalau tiang pancang tak tuntas dibangun, bagaimana landasan jalan bisa dikerjakan.

Raut wajahnya saya lihat kecewa. "Jauh-jauh kita dari Pekanbaru, dengan jalan yang meliuk-liuk menuju Jembatan Pangean ini, sepertinya tidak terbayar,"  kata AR Hamid.

Hmmm, saya hanya bisa menjadi pendengar setia sambil melihat-lihat tanggul-tanggul jembatan. Sekedar menghibur diri, hitung-hitung perjalanan ini sebagai mengisi waktu libur, minimal bisa melihat tugu unik dan mencicipi masakan orang Taluk. Walaupun jelang sampai ke jembatan ini liukan jalannya membuat saya huek-huek, hehehe. (*)

BACA TULISAN LAINNYA:
1. Masjid Agung An-Nur Provinsi Riau
2. Bakar Tongkang di Rohil
3. Stadion Utama Riau
4. Taman Marga Satwa Kasang Kulim  


Comments
8 Comments

8 komentar:

  1. Pangean negeri para leluhurku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. berbahagialah menjadi bagian dari lelugur pangean....

      Hapus
  2. Penuh jalan yang meliuk ya Bang, mantap nih......

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. liukannya buat muntah-muntah....hhehe

      Hapus
  3. keren bang, harusnya berita yang seperti ini yg perlu dipublish bang, oh y nama jalannya bukan lintas timur bang "Jalan lintas timur menuju Taluk Kuntan". kalau di kuansig jalan nasionalnya biasa disebut dengan lintas barat bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik RIAU DAILY PHOTO....terima kasih sudah mampir dan terima kasih juga sudah membantu koreksi...salam

      Hapus
  4. KUANSING - Kuantan Singingi
    Untuk erata.

    BalasHapus

TERIMA KASIH KOMENTARNYA, SEMOGA BERMANFAAT

Keliling Riau Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger