Widget edited by super-bee

Goresan Cah Melayu

Sabtu, 15 Desember 2012

Menunggu Multiplier Effect Pabrik Gula Dumai

Peta Kota Dumai (dumainews.blogspot.com)

SEORANG teman menghubungi saya lewat sambungan seluler. Saya kaget tumben-tumbennya ia menelpon. Sebab saya dengar ia sudah lama merantau ke negeri jiran Malaysia. Kami pun saling bertanya kabar. Alhamdulillah, semuanya dalam keadaan baik dan sehat walafiat.

Maaf, saya tidak sebutkan nama. Sebab khawatir dia keberatan. Tapi domisilinya di daerah Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Ia mengaku harus memutuskan pulang ke tanah air, karena ingin berkumpul bersama keluarga. Orangtuanya juga sudah mulai sakit-sakitan.

Di akhir pembicaraan kami, ia bertanya soal pekerjaan dan kalau bisa tidak jauh dari kampung halamannya di Rokan Hilir. Jelas maksudnya agar mudah pulang pergi. Sejenak saya berpikir. Dan kemudian terlintas ingatan saya soal rencana pembangunan pabrik Gula di Dumai. Dumai-Rohil relatif berdekatan, karena bertetangga.

Perihal pembangunan Pabrik Gula di Kota Dumai, Provinsi Riau, memang sudah menggaung sejak 2011 lalu. Bahkan disebut-sebut pabrik gulanya tergolong besar. Persis lokasinya di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai.

Nilai investasinya mencapai Rp 3 triliun. Wow, tentu angka yang tergolong besar. Lahan yang dibutuhkannya juga cukup luas, mencapai sekitar 22 hektare. Pabrik ini rencananya dibangun oleh PT Sumber Mutiara Indah Perdana atau disingkat SMIP.

Pabrik ini juga terintegrasi dengan kebun tebu yang terdapat di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, dengan luas lahan mencapai sekitar 14.442 hektare. Dumai-Bengkalis hanya dipisahkan sungai dan selat. Tapi tidak butuh waktu lama untuk saling menjangkaunya.

Belum lagi lahan-lahan di areal lainnya, seperti, Sungai Pakning, yang juga masih masuk wilayah Kabupaten Bengkalis. Luasnya mencapai sekitar 9.000 hektare.

Menurut hemat saya, keputusan perusahaan membangun pabriknya di Dumai, sangat tepat. Selain georafis Dumai lebih strategis, daerah ini juga dekat dengan Kawasan Industri Dumai (KID) dengan tata ruang yang potensial.

Jika akhirnya kelak terbangun, yang terpikir dibenak saya adalah multiplier effect yang berdampak luar biasa.

Bagaimana geliat ekonomi daerah akan terdongkrak maju. Judulnya saja 'pabrik besar' dengan luas areal tak kurang dari 22 hektare. Praktis ribuan tenaga kerja baru akan terserap, termasuk teman saya yang ingin mencari kerja tadi. Asyik, ada peluang kerja.

Perputaran uang dipastikan juga akan tinggi. Kita jangan dulu bercerita soal pendapatan pemerintah daerah, kita bicara dulu soal ekonomi kerakyatan yang akan berdampak di sekitarnya.

Bagaimana rumah kos-kosan masyarakat sekitar akan menjamur, tukang jual buah, tukang jual rokok, tukang jual sayur, kedai-kedai kecil, tukang ojek, angkutan oplet dan seterusnya akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Artinya akan tumbuh dan berkembang juga masyarakat ekonomi mapan baru.

Bayangkan saja, siapa yang akan memenuhi kebutuhan karyawan yang jumlahnya kelak bisa mencapai ribuan, tentu masyarakat sekitarnya. Sudah dapat dipastikan, kondisi tersebut menjadi potensi ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Seiring waktu berjalan dan semakin makmurnya para karyawan kelak, proyek-proyek properti juga akan berdiri di sekitaran pabrik, tentunya untuk memenuhi permintaan para karyawan dengan taraf hidup yang mulai membaik.

Kondisi ini mengingatkan saya pada cerita berdirinya perusahaan bubuk kertas PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP), yang terdapat di Kota Perawang, Kabupaten Siak, Riau.

Daerah ini dulu hanya sebuah desa kecil yang penduduknya banyak tinggal di pinggiran aliran Sungai Siak. Tapi siapa sangka, begitu pabrik kertas itu berdiri di sana, perkembangan Perawang maju pesat dan geliat ekonominya terus berkembang.

Ruko-ruko sudah banyak berdiri, swalayan dan pusat perbelanjaan lainnya juga berbanding lurus. Pembangunan perumahaan juga ikut bergeliat. Jembatan yang melintasi sungai Siak juga sudah terbangun kokoh. Pokoknya maju pesat deh.

Begitu pula saat berdirinya pabrik bubuk kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di daerah Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Sama dengan Perawang, awalnya daerah ini hanya desa biasa.

Namun pasca dibangunnya pabrik bubuk kertas tersebut beberapa tahun silam, ekonomi masyarakat sekitar bergeliat maju. Pemerintah daerah setempat juga sangat diuntungkan. Bahkan perusahaan ini mampu menghasilkan energi listrik yang ikut disalurkan kepada masyarakat umum. Sangat menguntungkan toh?.

Artinya perkembangan serupa juga akan bisa dirasakan masyarakat sekitar pabrik gula yang akan dibangun di Kota Dumai. Bahkan negara juga turut diuntungkan. Yang jelas, impor gula bisa semakin diminimalisir.

Bahkan keberadaan pabrik ini, akan mampu mendorong tercapainnya program pemerintah yang menargetkan swasembada gula pada 2014 mendatang. Semoga saja semuanya lancar sesuai rencana dan target perusahaan.

Namun pembangunan pabrik gula SMIP yang sudah ditunggu-tunggu para pencari kerja, hingga kini masih dalam proses. Investornya masih disibukkan mengurus berbagai izin terkait, seperti izin prinsip, amdal, pematangan lahan dan lainnya. Tapi proses yang sudah berjalan mengisaratkan progresnya ada dan hanya menunggu waktu. 

Sementara pemerintah daerah terus mendorong percepatan proses pembangunannya. Sebab akan berdampak positif bagi pemerintah dan perekonomian masyarakat sekitar. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Dumai dari sektor terkait tentu akan meningkat.

Alhasil alokasi anggaran untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bisa terus meningkat dari tahun ke tahun, menyusul terus berkembangnya perusahaan. Sehingga berbagai pembangunan bisa semakin merata, baik untuk pembangunan infrastruktur maupun pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Pemerintah daerah juga akan terbantu lewat program sosial perusahaan, di antaranya lewat sumber dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Para pelajar dan mahasiswa yang selama ini menumpukan harapan mendapatkan bantuan beasiswa kepada pemerintah daerah, kini terbuka lebar perusahaan akan turut membantu program serupa. Praktis beban pemerintah bisa sedikit berkurang.

Belum lagi pembangunan-pembangunan yang sebenarnya menjadi beban pemerintah, seperti jalan, sekolah, listrik, air bersih dan lain-lain, akan kecipratan dibangun oleh perusahaan. Pokoknya sip deh, masyarakat dan pemerintah akan diuntungkan dengan keberadaan pabrik tersebut.

Mudahnya berkaca saja dari kehadiran pabrik kertas PT IKPP di Perawang dan PT RAPP di Pangkalan Kerinci.

Ada beberapa sektor pembangunan yang mestinya menjadi tanggunjawab pemerintah daerah, seperti jalan, listrik, gedung sekolah dan sektor lainnya, diambil alih oleh perusahaan. Sehingga anggaran yang ada bisa dialihkan untuk pembangunan sektor lain yang tidak terjangkau oleh perusahaan.

Ini gambaran positif yang akan muncul jika pabrik gula itu jadi terbangun dan beroperasi di Kota Dumai. Mungkin pabrik-pabrik gula lainnya yang sudah duluan beroperasi di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk pabrik gula milik pemerintah, sudah memberi dampak positif kepada pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

Itu baru sektor tenaga kerja untuk di pabrik, belum lagi para petani yang terlibat di kebun tebu yang hamparan luasnya mencapai ribuan hektare. 

Untuk itu semoga saja pabrik gula di Dumai cepat berdiri dan beroperasi. Selain berbagai keuntungan yang didapatkan masyarakat sekitar dan pemerintah daerah, teman saya tadi juga punya peluang untuk bisa ikut bekerja dan berdekatan dengan keluarganya. Amin. (*)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

TERIMA KASIH KOMENTARNYA, SEMOGA BERMANFAAT

Keliling Riau Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger