Widget edited by super-bee

Goresan Cah Melayu

Sabtu, 15 Desember 2012

Target Pak Syawal Airnya Layak Minum

Pak Syawal (kiri) bersama penyaringan air berbahan baku pecahan keramik

Difasilitasi oleh seorang teman, akhirnya saya bisa berkomunikasi dengan Ir Syawaldi, M.Sc. Saya dengar Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Islam Riau (UIR) ini, baru saja menemukan proses penyaringan air dengan bahan baku utama pecahan keramik.

"Bukan temuan. Tapi lebih tepatnya inovasi. Sebab penyaringan air yang saya lakukan ini sebenarnya hampir sama dengan penyaringan kebanyakan. Bedanya bahan baku utama yang saya pakai menggunakan pecahan keramik," ujarnya mengawali perbincangan kami baru-baru ini di Pekanbaru.

Dalam perbincangan itu disebutkan, ide inovasi yang ia temukan bermula dari keprihatinannya atas kondisi air sumur di rumahnya sendiri. Kala itu otaknya terus berpikir bagaimana mengatasi kondisi airnya yang berbau.

"Ide itu muncul ketika air sumur di rumah kurang nyaman untuk dikonsumsi. Sebab berbau. Lama juga saya berpikir untuk mencari ide. Hampir setahunan juga," ceritanya.

Kemudian satu ketika, tepatnya pada bulan ramadhan, ia melihat keramik rumahnya memerah akibat terendam air. Ia pun terpikir, ternyata keramik itu bisa menyerap zat besi yang terdapat pada air. "Sejak itu ide pembuatan penyaringan air muncul," katanya

Ia pun memulai inovasinya. Dikumpulkan pecahan keramik dalam jumlah cukup banyak. Sebab penyaringan air yang ia lakukan memang membutuhkan bahan baku terbesar dari pecahan keramik.

Bahan baku pendukungnya adalah kapas, arang tempurung dan batu ziolit. "Cara kerjanya adalah, tumpukan bahan baku kapas, arang tempurung dan batu ziolit dimasukkan ke dalam saluran pipa berdiameter empat inchi. Kemudian air dialirkan lewat tumpukan bahan baku tersebut," ujarnya.

Selanjutnya air di proses kembali lewat pecahan keramik yang terdapat pada wadah tersendiri. "Air yang bersumber dari paralon tadi, akan disaring kembali dari wadah yang berisi pecahan keramik. Dari situ baru disalurkan ke penampungan akhir lewat kran. Waktu prosesnya hanya beberapa menit saja," ujarnya.

Hasilnya pun cukup memuaskan. pH air yang awalnya 5,2, setelah melalui proses penyaringan tadi berubah menjadi 6,6. Praktis airnya menjadi lebih bening dan tidak berbau. "Peralatan yang saya pakai ini relatif sederhana. Kedepan akan terus dimaksimalkan," ujarnya.

Kini hasil inovasinya tersebut terus dipakai untuk kebutuhan air lingkungan keluargnya. Ia menargetkan air tersebut bisa menghasilkan pH 7,5. Sehingga air menjadi layak minum.

"Inovasi ini akan terus kami kembangkan untuk bisa sampai menghasilkan pH 7,5. Untuk itu kami butuh bantuan pengujian lab. Tapi sekarang masih terbentur pendanaan. Target kita adalah, air hasil penyaringan bisa layak minum," harapnya.

Uji lab sangat dibutukan, untuk mengetahui kepastian kelayakan hasil ujicobanya dan melengkapi berbagai kekurangan yang ada. Terlepas dari itu, ia tetap optimis, inovasi yang ia lakukan hasilnya kelak bisa membantu masyarakat yang memiliki sumber air yang banyak zat besinya atau berminyak.

"Setiap perumahan itu, bisa dikatakan tidak semua rumah memiliki sumber air yang betul-betul bersih dari zat besi atau berminyak. Sehingga airnya menguning dan berbau. Lewat penyaringan yang kita lakukan ini, Insya Allah bisa membantu," katanya.

Proses inovasi hingga kini masih terus berlangsung dengan melibatkan mahasiswanya untuk bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Jika kelak hasilnya sesuai target, maka akan diproduksi massal untuk kepentingan masyarakat banyak. SEMOGA SAJA, AMIN. (*)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

TERIMA KASIH KOMENTARNYA, SEMOGA BERMANFAAT

Keliling Riau Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger